Projek penguatan profil pelajar Pancasila (P5) merupakan upaya untuk mendorong tercapainya profil pelajar Pancasila dengan menggunakan paradigma baru melalui pembelajaran berbasis projek. Dengan menjalankan P5, pendidik diharapkan dapat menemani proses pembelajaran peserta didik untuk dapat menumbuhkan kapasitas dan membangun karakter luhur sebagaimana yang dijabarkan dalam profil pelajar Pancasila.
Projek penguatan profil pelajar Pancasila, sebagai salah satu sarana pencapaian profil pelajar Pancasila, diharapkan dapat memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk “mengalami pengetahuan” sebagai proses penguatan karakter, sekaligus kesempatan untuk belajar dari lingkungan sekitarnya.
SMAN 1 Makassar melaksanakan kegiatan projek P5 sebagai bagian dari Kurikulum, Rabu (15/05/2024) yang berfokus pada siswa X (Sepuluh) mengambil tema bangun jiwa dan raganya dan sub tema perundungan bagi pelajar di sekolah.
Kepala DP3A-Dalduk KB Prov. Sulsel, Andi Mirna Hadir sebagai Narasumber yang membahas Fenomena Perundungan Pada Remaja dan Teman Sebaya.
Andi Mirna dalam materinya mengemukakan bahwa Fenomena perilaku bullying merupakan bagian dari kenakalan remaja yang sering terjadi pada masa-masa remaja, karena saat masa remaja mempunyai sifat egosentrisme yang cukup tinggi.
Ia menambahkan Bullying adalah perbuatan kekerasan yang sengaja dilakukan secara fisik maupun verbal oleh individu maupun kelompok secara berkali-kali. Pelaku biasanya berasal dari status sosial yang lebih tinggi, seperti anak yang lebih besar atau lebih kuat dan dianggap popular di sekolah sehingga menyalahgunakan posisinya.
Selain itu Andi Mirna juga menjelaskan bahwa dalam proses perundungan pelaku melakukan percobaan pertama dengan mengukur bagaimana reaksi korban dan melihat apakah mereka mendominasi atau mengintimidasi. Kemudian pelaku didukung oleh pengikut atau teman se-“circle” dengan melakukan intimidasi secara intens. Namun yang disayangkan adalah orang yang diluar circle perundungan tersebut hanya sebagai penonton dan tidak menolong sama sekali.
Lanjut Andi Mirna menekankan bahwa seharusnya teman sebaya dari korban harusnya mendukung korban dengan memberi perlindungan atau melaporkan kasus bullying ke pihak sekolah dan kehadiran dan Peran TPPK (Tim Perncegahan dan Penanganan Kekerasan) di Sekolah sangatlah penting untuk memastikan adanya respon cepat penanganan kekerasan dan menjadi tempat perlindungan bagi korban kekerasan.
Dengan adanya layanan terpadu TPPK, diharapkan korban dapat mendapatkan dukungan yang mereka butuhkan untuk pulih dari trauma, sementara sekolah dapat menjadi tempat yang lebih aman dan nyaman bagi semua peserta didik.
Terakhir, Andi Mirna juga memperkenalkan PUSPAGA dan UPT PPA SULSEL kepada siswa sebagai sebuah layanan untuk pencegahan kekerasan terhadap perempuan dan anak. Dengan adanya layanan ini, diharapkan para siswa lebih memahami pentingnya perlindungan terhadap perempuan dan anak serta dapat berperan aktif dalam mencegah tindakan kekerasan di lingkungan mereka. Layanan ini juga menyediakan berbagai program edukasi dan konseling untuk mendukung kesehatan mental dan kesejahteraan siswa.